Provinsi Jawa Tengah telah terbentuk sejak masa penjajahan Belanda.
Namun sempat dihapuskan di era penjajahan Jepang, sebab Jepang lebih
menekankan pemerintahan pada tingkat keresidenan, atau disebut
pemerintahan Syuu. Provinsi Jawa Tengah terbentuk kembali pada awal
kemerdekaan. Jawa Tengah ketika itu merupakan salah satu provinsi dari
delapan provinsi yang ditetapkan. Provinsi lainnya adalah Jawa Barat,
Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Selawesi, Sunda Kecil dan Maluku.
Gubernur pertama bernama R. Pandji Soeroso.
Wilayah Jawa Tengah telah dihuni oleh manusia sejak kira-kira sejuta
tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Meganthropus
Paleojavanicus (manusia besar dari Jawa Zaman Kuno) di Sangiran pada
tahun 1941. Manusia lebih muda yang hidup di Jawa tengah adalah sekitar
600.000 tahun yang lalu, yaitu, sejak zaman batu tua atau paleolitikum.
Sebagai buktinya adalah dengan ditemukannya Pithecanthropus Erectus di
dekat Trinil. Setelah Pithecanthropus Erectus, Jawa Tengah dihuni oleh
Homo Soloensis. Fosilnya ditemukan di daerah aliran Bengawan Solo, dekat
Sragen pada tahun 1941.
Sejak beberapa abad sebelum Masehi, Jawa Tengah telah dihuni oleh
suku bangsa Deutro Melayu. Mereka berasal dari daerah Yunan, dan sebelum
tiba di Indonesia, mereka telah lama menetap di Vietnam. Sejak awal
abad Masehi, penduduk Jawa Tengah ini telah menjalin hubungan dagang dan
kebudayaan dengan India dan Cina.
Pada tahun 732, Raja Sanjaya memerintah di Kerajaan Mataram Kuno. Dia
diperkirakan menguasai Jawa Tengah bagian utara. Sementara Dinasti
Sailendra diperkirakan menguasai Jawa Tengah bagian selatan. Masa
kejayaan Jawa Tengah Kuno, lewat Kerajaan Mataram, berakhir pada abad
10. Mulai abad 10 ini, kekuatan beralih ke Jawa Timur, lewat Kerajaan
Majapahit yang menerapkan kebijakan terbuka terhadap dunia luar.
Keterbukaan ini, selain menghasilkan kemajuan, juga mempercepat
penyebaran Islam di pulau Jawa. Perkembangan Islam yang pesat, pada
akhirnya menyurutkan kekuasaan politik Kerajaan Majapahit.
Salah satu pusat perkembangan Islam adalah Demak. Kerajaan Demak
berdiri tahun 1581, didirikan oleh Raden Hasan. Dia kemudian bergelar
Syah Akbar Al Fatah, atau lebih dikenal dengan nama Raden Patah. Para
era pemerintahan Pangeran Trenggono, sekitar tahun 1521, Kerajaan Demak
berkembang menjadi semacam negara Federal dengan Islam sebagai
pemersatu.
Pada masa tersebut, Kerajaan Samudera Pasai diserang Portugis.
Keadaan ini memaksa seorang bangsawan Aceh yang bernama Fatahillah untuk
menyingkir dari daerahnya. Dia hijrah ke Demak. Fatahillah kemudian
menikah dengan adik Sultan Trenggono dan diangkat sebagai Panglima
Tentara Kerajaan Demak. Fatahillah kemudian menyerang dan mengambil-alih
Bandar-bandar penting Kerajaan Pajajaran, yaitu, Cirebon, Sunda Kelapa,
dan Banten.
Tahun 1550, Sultan Trenggono tewas akibat peghianatan putra Adipati
Surabaya. Setelah Sultan Trenggono wafat, terjadilah perebutan
kekuasaan. Dalam perebutan takhta kerajaan itu, terdapat seseorang
bernama Pamanahan. Pamanahan ini membantu Adiwijaya hingga memenangkan
perebutan tersebut, dan menjadi Sultan Demak. Sebagai imbalan atas
bantuannya, Pamanahan diberi hadiah berupa daerah kekuasaan di wilayah
Mataram (sekarang sekitar Kota Gede, Yogyakarta).
Kejayaan Mataram dicapai ketika pemerintahan Sultan Agung Hanyokro
Kusumo. Namun sepeninggal Sultan Agung, Mataram mengalami masa suram,
sampai pada akhirnya pecah akibat ulah Belanda, yaitu, melalui
perjanjian Giyanti. Sejak berhasil memecah-belas Kerajaan Mataram,
Belanda dapat dengan mudah menerapkan kolonialisme di Jawa Tengah.
Kemudahan ini baru terusik pada saat perjadi perlawanan rakyat yang
dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Menyusul kebangkitan nasional 1908, pada tahun 1911, di Jawa Tengah
berdiri organisasi Serikat Dagang Islam (SDI) dengan pendirinya, H.O.S.
Tjokroaminoto. Tahun 1912, SDI berubah menjadi Syarikat Islam.
Organisasi ini berkembang sampai ke daerah lain di seluruh Indonesia.
Provinsi Jawa Tengah dibentuk dengan Staatsblad 1929 No. 227 meliputi
seluruh daerah Pulau Jawa bagian tengah kecuali Kasunanan Surakarta dan
daerah Mangkunegaran dalam Keresidenan Surakarta dan Kesultanan
Yogyakarta dan daerah Pakualaman dalam keresidenan Yogyakarta. Pada masa
penjajahan Jepang, pemerintahan provinsi dihapuskan. Pemerintahan
ditekankan pada keresidenan, atau disebut pemerintahan Syuu. Setelah
masa penjajahan berakhir, Jawa Tengah kembali muncul. Berita telah
adanya Proklamasi kemerdekaan yang sampai ke Jawa Tengah pada tanggal
yang sama dengan dibacakannya proklamasi itu, disambut oleh para tokoh
pergerakan dengan membentuk lembaga-lembaga pemerintahan daerah.
Pada tanggal 19 Oktober 1945, sekutu mendarat di bawah pimpinan
Brigadir Jenderal Bethel. Kedatangan sekutu tersebut ternyata diboncengi
oleh pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali Indonesia. Rakyat
Indonesia mengadakan perlawanan, misalnya perlawanan yang dilakukan oleh
kesatuan-kesatuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang diperkuat olah
para pejuang lain di Magelang. Di kota tersebut, pertempuran besar pecah
tanggal 31 Oktober dan 9 November 1945. Tanggal 21 November 1945,
sekutu mundur dari Magelang dan bergerak ke Ambarawa. Para pejuang
kemerdekaan kemudian menyerbu Ambarawa, terjadilah pertempuran dahsyat
empat hari empat malam yang dikenal dengan peristiwa “Palagan Ambarawa”.
Tanggal 15 Desember 1945, tentara sekutu dipukul mundur dari Ambarawa.
Belanda berusaha mengasai Indonesia kembali dengan cara melakukan
politik pecah belah, yakni membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS)
dan melakukan aksi militer. Namun usaha Belanda untuk memecah-belah itu
tidak efektif. Para tanggal 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan
terbentuk kembali Republik Indonesia. Pada tanggal 4 Juli 1950, status
Jawa Tengah sebagai provinsi diundangkan dengan UU No. 70 tahun 1950.
(Sumber: sejarahbangsaindonesia.co.cc)